Selasa, 26 April 2016

Kritik Terhadap Nilai  Politik di Kehidupan Masyarakat Pada Lirik Lagu Manusia Setengah Dewa Karya Iwan Fals
Disusun  Guna Memenuhi Mata Kuliah Seminar Sastra
Dosen pengampu: Drs. Ambarini Asriningsari M. Pd
Di susun oleh:
NAMA      : DEDI PRIYONO
NPM          : 12410261
KELAS      : 7 G

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS PGRI SEMARANG
2015

PENDAHULUAN
Pada  perkembangannya, bahasa puisi diapresiasikan oleh sarana kesenian salah satunya lirik lagu delam seni musik. Seni musik merupakan sarana budaya yang hadir dalam masyarakat sebagai konstruksi dari realitas sosial yang dituangkan dalam bentuk lirik lagu. Pada awalnya kebutuhan lagu digunakan untuk kepentingan upacara ritual, tetapi seiring perkembangan masyarakat musik telah berubah, bergesar menjadi sebuah komuditi yang dimersialisasikan menjadi barang ekonomi yang diperjualbelikan.
Musik merupakan perilaku sosial yang kompleks dan universal yang didalamnya memuat sebuah ungkapan pikiran manusia, gagasan, dan ide-ide yang mengandung sebuah pesan yang signifikan. Pesan atau ide yang disampaikan melalui musik atau lagu biasanya memiliki keterkaitan dengan konteks sosial. Lagu tidak hanya sebuah gagasan untuk menghibur, tetapi memiliki pesan-pesan moral atau idealisme.
Bahasa lirik lagu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan bahasa puisi. Hal ini sesuai dengan pengertian lirik lagu menurut Semi (1998: 106) yang mengatakan “lirik adalah puisi yang pendek yang mengekspresikan emosi”. Hal ini diperkuat pada definisi lain mengenai lirik lagu terdapat dalam KBBI (1990: 528), yaitu lirik lagu adalah karya puisi yang dinyanyikan. Bentuk ekspresi emotif terwujud dalam bunyi dan kata.selai itu untuk memperoleh kesan tertentu seperti puisi, bahasa lirik lagu juga bersifat ringkas dan padat. Hal ini disebabkan lirik lagu telah mengalami proses pemadatan makna dan kreativitas pemilihan diksi dari penyairnya.
Pada prinsipnya lirik lagu dapat menyatakan realitas kehidupan. Realitas yang dibawakan akan menjadi lebih menarik, menyentuh hari bahkan mampu membawa dalam imajinasi. Realita kehidupan merupakan hal yang paling dekat dibawakan pada lirik lagu. Maka jika dihubungkan dengan realita, lirik Iwan Fals cukup berbeda, karena Iwan Fals tidak mempersoalkan kelas tetapi lebih mengkritisi kelas tertentu yang melakukan penindasan atau peristiwa ketidak adilan. Didalam lagu-lagu Iwan Fals sebagian besar bertemakan kritik dan keadilan sosial. Dengan mengetahui sebuah tema yang terdaoat dalam suatu karya sastra khususnya pada lirik lagu, kita dapat memaknai atau mengetahui maksud yang akan disampaikan.
Pada lagu Manusia Setengah Dewa yang juga merupakan lagu-lagu yang dikenal masyarakat merupakan kritik dan sindiran terhadap lembaga pemimpin politik di Indonesia, yaitu anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai lembaga legislatif dan Presiden sebagai lembaga eksekutif. Lirik lagu Manusia Setengah Dewa yang menjadi kritikan dan menyindir terhadap presiden. DPR mendapat banyak kritikan dari publik. Misalnya saja rencana pembangunan Gedung DPR. Kemudian rencanan renovasi toilet di Gedung DPR yang memakan dana sebesar 2 Milyar. Belum lagi perilaku-perilaku lainnya yang menyimpang dari citra sebagai anggota DPR. Perilaku tidak terpuji tersebut salah satunya adalah tidur ketika sidang.
 Sebuah teks apakah itu naskah drama, makalah, iklan, cerpen, puisi, pidato presiden, poster politik, komik, kartun, dan semua hal yang mungkin menjadi “tanda“ bisa dilihat dalam aktivitas penanda : yaitu suatu proses signifikasi yang menggunakan tanda yang menghubungkan objek dan interpretasi (Sobur, 2004 : 17).
 Berdasarkan uraian konteks masalah di atas, maka dapat disimpulkan rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah Kritik Terhadap Nilai  Politik di Kehidupan Masyarakat Pada Lirik Lagu Manusia Setengah Dewa Karya Iwan Fals?” Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui gambaran kehidupan politik di Indonesia yang disampaikan Iwan Fals dalam lirik lagu Manusia Setengah Dewa.


 2. Kajian Teoritis
Model analisis semiotika mencakup teori kode dan teori produksi tanda yang akan menjelaskan rentang fenomena yang sangat luas. Beberapa contoh yang dapat diteliti menggunakan teori semiotika adalah pemakaian bahasa secara umum, komunikasi estetis, tindakan komunikasi interaksional, Pemakaian tanda untuk menyebut sesuatu hingga keadaan dunia (Umberto Eco, 2009:1). Teknik analisis semiotika secara singkat dapat didefinisikan sebagai cara atau metode untuk menganalisis dan memberikan makna terhadap lambang yang terdapat satu paket antara lambang, pesan dan teks (Pawito, 2007:155).
 Semiotika adalah suatu ilmu atau atau metoda analisis untuk mengakaji tanda. Tanda-tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari jalan di dunia ini, di tengah-tengah manusia dan bersama-sama manusia. Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi, melainkan objek-objek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda (Barthes dan Kurniawan dalam Sobur, 2004 : 15).
 Dalam semiotikus musik, adanya tanda-tanda perantara, yakni musik yang dicatat sebagai orkestra yang mampu memberikan jalan keluar. Sistem tanda pada musik adalah Oditif. Untuk mencapai pendengaranya, penggubah musik mempersembahkan kreasinya dengan perantara pemain musik dalam bentuk tanda tertulis menjadi visual (Alex Sobur, 2004:144). Musik selalu memiliki simbol yang dikemas sedemikian rupa hingga menjadi media penyampai pesan yang efektif bagi masyarakat. Pesan yang terkandung dalam musik beragam, pesan tentang cinta, kerinduan hingga pesan perjuangan yang mengandung aspirasi tertentu demi perubahan.
 Hal ini terlihat dari beberapa karya musisi tanah air. Iwan Fals menyuarakan aspirasinya melalui lirik tajam demi mengkritisi kondisi pemerintahan otoriter pada era Orde Baru. Iwan dikagumi bukan karena musikalitas dan kemampuanya yang hebat. Lebih dari itu, ia disanjung sebagai sosok yang punya sikap jelas terhadap masalah-masalah politik.
 3. Metode Penelitian
Mengkaji stilistika memerlukan teori dan metode untuk mengungkapkan tanda-tanda yang akan diteliti. Dalam pengkajian ini, langkah pertama yang dilakukan dalam mengkaji stilistika lagu Iwan Fals berjudul Manusia Setengah Dewa dengan meneliti gaya kata atau penggunaan diksi. Setelah mengkaji gaya kata tersebut kemudian dilanjut dengan pengungkapan makna stilistika lagu tersebut dengan menggunakan teori Semiotik.
 Objek penelitian ini adalah lagu Iwan Fals yang berjudul Manusia Setengah Dewa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Data kualitatif merupakan sumber informasi yang bersumber pada teori, kaya akan deskripsi, dan kaya akan penjelasan proses yang terjadi dalam konteks, Hubernur (dalam Al-a’ruf, 2012:147).


  

PEMBAHASAN
Lirik lagu manusia setengah dewa karya iwan fals:
Wahai presiden kami yang baru
Kamu harus dengar suara ini
Suara yang keluar dari dalam goa
Goa yang penuh lumut kebosanan

Walau hidup adalah permainan
Walau hidup adalah hiburan
Tetapi kami tak mau dipermainkan
Dan kami juga bukan hiburan

Turunkan harga secepatnya
Berikan kami pekerjaan
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa

Reff:
Masalah moral masalah akhlak
Biar kami cari sendiri
Urus saja moralmu urus saja akhlakmu
Peraturan yang sehat yang kami mau

Tegakkan hukum setegak-tegaknya
Adil dan tegas tak pandang bulu
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa

Kembali ke: Reff
Turunkan harga secepatnya
Berikan kami pekerjaan
Tegakkan hukum setegak-tegaknya
Adil dan tegas tak pandang bulu

Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa
Wahai presiden kami yang baru
Kamu harus dengar suara ini


Makna dari lagu Iwan Fals yang berjudul Manusia Setengah Dewa dapat dilihat pada penjelasan dibawah ini. 
 “Wahai presiden kami yang baru, Kamu harus dengar suara ini”
“Suara yang keluar dari dalam goa, Goa yang penuh lumut kebosanan”
Analisis :
 Melalui syair ini secara tidak langsung pengarang menujukan lirik lagu ini kepada presiden indonesia. Kata presiden bermakna kepala negara (bagi negara yang berbentuk republik). Sedangkan kata “baru” bermakna belum pernah dilihat sebelumnya, dan belum pernah didengar sebelumnya. Namun, kata “baru” disini sebagai keterangan sifat dari kata “ presiden “berarti bahwa lagu ini secara khusus ditujukan kepada presiden yang baru saja akan dilantik pada saat lagu ini dirillis dalam album yang berjudul “Manusia Setengah Dewa”. Sedangkan kata “suara” bermakna bunyi yang dikeluarkan dari mulut manusia (seperti pada waktu bercakap – cakap, menyanyi, tertawa dan menangis).
 Kata “gua” bermakna gorong-gorong, liang, lubang, terowongan. Penulis tidak bisa bayangkan bagaimana bisa Iwan Fals memilih kata gua sebagai sumber dari suara-suara yang ingin presiden dengarkan. Kata “lumut” bermakna tumbuhan hijau atau kuning kecil-kecil yang tumbuh banyak dan berkelompok membentuk bantalan (hamparan) menyerupai beledu pada batu, kayu, tanah, atau tembok yang lembab. Sedangkan kata “kebosanan” bermakna hal bosan atau kejenuhan.
Konotasi:
Kalimat “presiden yang baru” pada lirik di atas sebenarnya belum secara pasti dan tegas ditujukan kepada orang yang jelas. Karena lagu “Manusia Setengah Dewa” ini sudah terlebih dahulu dirilis menjelang Pemilihan Umum (PEMILU) presiden dan wakil presiden pada 5 Juli 2004. Pengarang menyatakan secara jelas bahwa lagu ini ditujukan kepada semua calon presiden yang nantinya akan terpilih dan menjabat Presiden. Dalam kenyataannya presiden yang akhirnya terpilih pada PEMILU 5 Juli 2004 adalah Susilo Bambang Yudhoyono yang pada saat itu berpasangan dengan Yusuf Kalla. Pengibaratan “suara yang keluar dari goa” suara tersebut bisa terdengar namun hanya sebatas sayup-sayup yang tidak terdengar jelas dan sulit untuk dipahami. Sehingga goa tersebut pun berubah menjadi goa yang dipenuhi lumut karena tidak juga didengar suaranya yang akhirnya membosankan dan ditinggalkan.


“Walau hidup adalah permainan, Walau hidup adalah hiburan”
“Tetapi kami tak mau dipermainkan, Dan kami juga bukan hiburan”
Analisis:
 Kata “main” dalam KBBI berarti melakukan perbuatan untuk bersenang-senang. Jadi permainan adalah sesuatu yang digunakan untuk bermain; barang atau sesuatu yang yang dipermainkan. Dalam hal ini permainan itu, Pengarang mengibaratkan hidup lah yang menjadi permainan. Hiburan adalah sesuatu atau perbuatan yang dapat menghibur hati (melupakan kesedihan, dsb).
Konotasi:
Didalam lirik walaupun pengarang mengibaratkan hidup sebagai permainan dan sebagai hiburan. Namun, pengarang tetap tidak ingin kehidupan rakyat Indonesia dipermainkan dan dijadikan hiburan bagi presdien, khususnya. “Walau hidup adalah permainan” merujuk bahwa Iwan Fals mengibaratkan hidup di dunia adalah permainan. Seperti yang telah pengarang katakan diatas bahwa pengarang merasa makna lirik ini bersifat sarkasme (Dalam KBBI sarkasme bermakna (penggunaan) kata-kata pedas untuk menyakiti hati orang lain; cemoohan atau ejekan kasar).
“Turunkan harga secepatnya, Berikan kami pekerjaan”
“Pasti kuangkat engkau menjadi manusia setengah dewa”
Analisis :
Kata “turunkan” disini merujuk pada kata “harga” yang mengartikan bahwa harga yang dimaksudkan pada lirik tersebut adalah mahal. Oleh sebab itu, Iwan Fals menginginkan harga untuk diturunkan secepatnya. Pekerjaan adalah barang apa yang dijadikan pokok penghidupan; sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan nafkah. Dewa adalah orang yang diangan-angankan sebagai manusia halus yang berkuasa atas alam dan manusia; orang atau sesuatu yang dipuja-puja.
Konotasi:
Kategori kata mahal memang berbeda-beda pada setiap orang. Namun, kata mahal bisa digeneralisasikan apabila dalam pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan bagi sebagian besar rakyat Indonesia sudah sulit untuk dipenuhi, maka dapat dikatakan “harga mahal”. Dan kata “secepatnya” menunjukkan betapa penurunan harga tersebut sangat diharapkan dan dibutuhkan oleh rakyat. “Berikan kami pekerjaan” merujuk bahwa pada saat itu pekerjaan menjadi hal yang sulit untuk didapatkan. Lagu ini dirilis sebelum PEMILU Presiden dan Wakil Presdien tahun 2004. Dengan kata lain, apabila presiden yang baru ini berhasil menuruti permintaan rakyat, maka rakyat akan mengangkatnya menjadi manusia setengah dewa.

“Masalah moral masalah akhlak, Biar kami cari sendiri”
“Urus saja moralmu urus saja akhlakmu”
Analisis:
 Kata “moral” bermakna ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, dan kewajiban. Sedangkan kata “akhlak” bermakna budi pekerti, kelakuan.
Melalui Lirik ini pengarang mengambarkan secara jelas bahwa tugas presiden tidak termasuk megurusi masalah akhlak dan moral rakyat. Apabila moral presiden itu sendiri sudah bagus maka moral rakyat pun akan bagus. Telah dijelaskan juga di atas bahwa lirik ini menggambarkan kebebasan pada masing-masing pribadi, baik itu rakyat ataupun presiden dalam mengurus hal akhlak dan moral.
“Peraturan yang sehat yang kami mau, Tegakkan hukum setegak-tegaknya”
 “Adil dan tegas tak pandang bulu, pasti kuangkat engkau menjadi manusia setengah dewa”
Analisis:
Kata “peraturan” bemakna tatatan (petunjuk, kaidah, ketentuan) yang dibuat untuk mengatur. Sedangkan kata “sehat” yang diartikan sebagai keterangan untuk peraturan merujuk pada keadaan yang berjalan dengan baik atau sebagaimana mestinya, seperti keuangan, ekonomi, politik, dsb. Tegak bermakna lurus kearah atas. Sedangkan hukum dalam bermakna peraturan atau adat yang secara resmi dianggap mengikat, yang dikukuhkan oleh penguasa, pemerintah atau otoritas. Adil bermakna tidak berat sebelah, tidak memihak. Sedangkan tegas bermakna jelas dan benar, nyata.
Konotasi:
Melalui lirik ini pengarang mengharapkan hukum di Indonesia harus ditegakkan dan harus dijalankan secara adil. Itulah kunci agar kemakmuran rakyat Indonesia tercapai. Lirik “tak pandang bulu” berarti hukum dilaksanakan dan dijalankan tanpa melihat siapa dan latar belakang seseorang saat proses penegakan hukum. Di dalam kehidupan politik Indonesia, Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono sempat diuji rasa keadilan, ketegasan dan tidak pandang bulunya dalam kasus korupsi yang dilakukan oleh besannya sendiri, yaitu Aulia Pohan.




Simpulan:
 Manusia setengah dewa merupakan makhluk khayalan di dalam mitos yang memiliki kehebatan dan kekuatan di dalam dirinya yang dapat digunakan untuk menolong orang disekelilingnya. Hal ini lah yang dimaksud oleh Iwan Fals dengan ide “manusia setengah dewa”. Apabila presiden dapat memenuhi semua permintaan rakyat pada lirik lagu manusia setengah dewa ini pasti presiden tersebut memiliki kekuatan seperti makhluk khayalan pada cerita mitos.
 Melalui lagu ini pengarang sebagai dari rakyat akan hadirnya presiden indonesia yang adil dan bijaksana seakan mewakili suara rakyat indonesia secara keseluruhan. Dan lagu ini menyampaikan pesan itu kepada presiden baru.
 Lagu manusia setengah dewa diciptakan pada tahun 2004. Syair lagu ini dicipakan pengarang ditujukan kepada BJ Habibie yang saat itu tahun 1996 baru diangkat menjadi presiden indonesia ke 3 mengantikan soeharto yang berkuasa selama puluhan tahun menjadi presiden dan dipaksa mengundurkan diri karena terjadi demonstrasi besar-besaran di seluruh negeri








DAFTAR PUSTAKA

Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Teori, Metode dan Teknik Penelitihan Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Keraf, Gorys Dr. 1994. Disi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramadia Pustaka Utama.
Pawito. 2007. Penelitian Komunikasi Kualitatif . Yogyakarta: LkiS Yogyakarta.
Sobur, Alex. 2004. Semiotika Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Umberto, Eco. 2009. Teori Semiotika (Edisi Terjemahan Oleh Inyiak Ridwan Muzir). Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar