Kritik Terhadap Nilai Politik di Kehidupan Masyarakat Pada Lirik
Lagu Manusia Setengah Dewa Karya Iwan Fals
Disusun
Guna Memenuhi Mata Kuliah Seminar Sastra
Dosen pengampu: Drs. Ambarini
Asriningsari M. Pd
Di susun oleh:
NAMA :
DEDI PRIYONO
NPM :
12410261
KELAS :
7 G
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS PGRI SEMARANG
2015
PENDAHULUAN
Pada perkembangannya, bahasa puisi diapresiasikan
oleh sarana kesenian salah satunya lirik lagu delam seni musik. Seni musik
merupakan sarana budaya yang hadir dalam masyarakat sebagai konstruksi dari
realitas sosial yang dituangkan dalam bentuk lirik lagu. Pada awalnya kebutuhan
lagu digunakan untuk kepentingan upacara ritual, tetapi seiring perkembangan
masyarakat musik telah berubah, bergesar menjadi sebuah komuditi yang
dimersialisasikan menjadi barang ekonomi yang diperjualbelikan.
Musik
merupakan perilaku sosial yang kompleks dan universal yang didalamnya memuat
sebuah ungkapan pikiran manusia, gagasan, dan ide-ide yang mengandung sebuah
pesan yang signifikan. Pesan atau ide yang disampaikan melalui musik atau lagu
biasanya memiliki keterkaitan dengan konteks sosial. Lagu tidak hanya sebuah
gagasan untuk menghibur, tetapi memiliki pesan-pesan moral atau idealisme.
Bahasa
lirik lagu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan bahasa puisi. Hal ini sesuai
dengan pengertian lirik lagu menurut Semi (1998: 106) yang mengatakan “lirik
adalah puisi yang pendek yang mengekspresikan emosi”. Hal ini diperkuat pada
definisi lain mengenai lirik lagu terdapat dalam KBBI (1990: 528), yaitu lirik
lagu adalah karya puisi yang dinyanyikan. Bentuk ekspresi emotif terwujud dalam
bunyi dan kata.selai itu untuk memperoleh kesan tertentu seperti puisi, bahasa
lirik lagu juga bersifat ringkas dan padat. Hal ini disebabkan lirik lagu telah
mengalami proses pemadatan makna dan kreativitas pemilihan diksi dari
penyairnya.
Pada
prinsipnya lirik lagu dapat menyatakan realitas kehidupan. Realitas yang
dibawakan akan menjadi lebih menarik, menyentuh hari bahkan mampu membawa dalam
imajinasi. Realita kehidupan merupakan hal yang paling dekat dibawakan pada
lirik lagu. Maka jika dihubungkan dengan realita, lirik Iwan Fals cukup
berbeda, karena Iwan Fals tidak mempersoalkan kelas tetapi lebih mengkritisi kelas
tertentu yang melakukan penindasan atau peristiwa ketidak adilan. Didalam
lagu-lagu Iwan Fals sebagian besar bertemakan kritik dan keadilan sosial.
Dengan mengetahui sebuah tema yang terdaoat dalam suatu karya sastra khususnya
pada lirik lagu, kita dapat memaknai atau mengetahui maksud yang akan
disampaikan.
Pada
lagu Manusia Setengah Dewa yang juga merupakan lagu-lagu yang dikenal
masyarakat merupakan kritik dan sindiran terhadap lembaga pemimpin politik di
Indonesia, yaitu anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai lembaga
legislatif dan Presiden sebagai lembaga eksekutif. Lirik lagu Manusia Setengah
Dewa yang menjadi kritikan dan menyindir terhadap presiden. DPR mendapat banyak
kritikan dari publik. Misalnya saja rencana pembangunan Gedung DPR. Kemudian
rencanan renovasi toilet di Gedung DPR yang memakan dana sebesar 2 Milyar.
Belum lagi perilaku-perilaku lainnya yang menyimpang dari citra sebagai anggota
DPR. Perilaku tidak terpuji tersebut salah satunya adalah tidur ketika sidang.
Sebuah teks apakah itu naskah drama, makalah,
iklan, cerpen, puisi, pidato presiden, poster politik, komik, kartun, dan semua
hal yang mungkin menjadi “tanda“ bisa dilihat dalam aktivitas penanda : yaitu
suatu proses signifikasi yang menggunakan tanda yang menghubungkan objek dan
interpretasi (Sobur, 2004 : 17).
Berdasarkan uraian konteks masalah di atas,
maka dapat disimpulkan rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
“Bagaimanakah Kritik Terhadap
Nilai Politik di Kehidupan Masyarakat
Pada Lirik Lagu Manusia Setengah Dewa Karya Iwan Fals?”
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui gambaran kehidupan politik
di Indonesia yang disampaikan Iwan Fals dalam lirik lagu Manusia Setengah Dewa.
2. Kajian Teoritis
Model
analisis semiotika mencakup teori kode dan teori produksi tanda yang akan
menjelaskan rentang fenomena yang sangat luas. Beberapa contoh yang dapat
diteliti menggunakan teori semiotika adalah pemakaian bahasa secara umum,
komunikasi estetis, tindakan komunikasi interaksional, Pemakaian tanda untuk
menyebut sesuatu hingga keadaan dunia (Umberto Eco, 2009:1). Teknik analisis
semiotika secara singkat dapat didefinisikan sebagai cara atau metode untuk
menganalisis dan memberikan makna terhadap lambang yang terdapat satu paket
antara lambang, pesan dan teks (Pawito, 2007:155).
Semiotika adalah suatu ilmu atau atau metoda
analisis untuk mengakaji tanda. Tanda-tanda adalah perangkat yang kita pakai
dalam upaya berusaha mencari jalan di dunia ini, di tengah-tengah manusia dan
bersama-sama manusia. Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa
informasi, melainkan objek-objek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga
mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda (Barthes dan Kurniawan dalam
Sobur, 2004 : 15).
Dalam semiotikus musik, adanya tanda-tanda
perantara, yakni musik yang dicatat sebagai orkestra yang mampu memberikan
jalan keluar. Sistem tanda pada musik adalah Oditif. Untuk mencapai
pendengaranya, penggubah musik mempersembahkan kreasinya dengan perantara
pemain musik dalam bentuk tanda tertulis menjadi visual (Alex Sobur, 2004:144).
Musik selalu memiliki simbol yang dikemas sedemikian rupa hingga menjadi media
penyampai pesan yang efektif bagi masyarakat. Pesan yang terkandung dalam musik
beragam, pesan tentang cinta, kerinduan hingga pesan perjuangan yang mengandung
aspirasi tertentu demi perubahan.
Hal ini terlihat dari beberapa karya musisi
tanah air. Iwan Fals menyuarakan aspirasinya melalui lirik tajam demi
mengkritisi kondisi pemerintahan otoriter pada era Orde Baru. Iwan dikagumi
bukan karena musikalitas dan kemampuanya yang hebat. Lebih dari itu, ia
disanjung sebagai sosok yang punya sikap jelas terhadap masalah-masalah
politik.
3. Metode Penelitian
Mengkaji
stilistika memerlukan teori dan metode untuk mengungkapkan tanda-tanda yang
akan diteliti. Dalam pengkajian ini, langkah pertama yang dilakukan dalam
mengkaji stilistika lagu Iwan Fals berjudul Manusia Setengah Dewa dengan
meneliti gaya kata atau penggunaan diksi. Setelah mengkaji gaya kata tersebut
kemudian dilanjut dengan pengungkapan makna stilistika lagu tersebut dengan
menggunakan teori Semiotik.
Objek penelitian ini adalah lagu Iwan Fals
yang berjudul Manusia Setengah Dewa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode kualitatif. Data kualitatif merupakan sumber informasi yang
bersumber pada teori, kaya akan deskripsi, dan kaya akan penjelasan proses yang
terjadi dalam konteks, Hubernur (dalam Al-a’ruf, 2012:147).
PEMBAHASAN
Lirik
lagu manusia setengah dewa karya iwan fals:
Wahai
presiden kami yang baru
Kamu
harus dengar suara ini
Suara
yang keluar dari dalam goa
Goa
yang penuh lumut kebosanan
Walau
hidup adalah permainan
Walau hidup adalah
hiburan
Tetapi kami tak mau
dipermainkan
Dan kami juga bukan
hiburan
Turunkan
harga secepatnya
Berikan
kami pekerjaan
Pasti
kuangkat engkau
Menjadi
manusia setengah dewa
Reff:
Masalah moral masalah
akhlak
Biar kami cari sendiri
Urus saja moralmu urus
saja akhlakmu
Peraturan yang sehat yang
kami mau
Tegakkan
hukum setegak-tegaknya
Adil
dan tegas tak pandang bulu
Pasti
kuangkat engkau
Menjadi
manusia setengah dewa
Kembali ke: Reff
Turunkan harga
secepatnya
Berikan kami pekerjaan
Tegakkan hukum
setegak-tegaknya
Adil dan tegas tak
pandang bulu
Pasti
kuangkat engkau
Menjadi
manusia setengah dewa
Wahai
presiden kami yang baru
Kamu
harus dengar suara ini
Makna
dari lagu Iwan Fals yang berjudul Manusia Setengah Dewa dapat dilihat pada
penjelasan dibawah ini.
“Wahai presiden kami yang baru, Kamu harus
dengar suara ini”
“Suara
yang keluar dari dalam goa, Goa yang penuh lumut kebosanan”
Analisis
:
Melalui syair ini secara tidak langsung
pengarang menujukan lirik lagu ini kepada presiden indonesia. Kata presiden
bermakna kepala negara (bagi negara yang berbentuk republik). Sedangkan kata
“baru” bermakna belum pernah dilihat sebelumnya, dan belum pernah didengar
sebelumnya. Namun, kata “baru” disini sebagai keterangan sifat dari kata “
presiden “berarti bahwa lagu ini secara khusus ditujukan kepada presiden yang
baru saja akan dilantik pada saat lagu ini dirillis dalam album yang berjudul
“Manusia Setengah Dewa”. Sedangkan kata “suara” bermakna bunyi yang dikeluarkan
dari mulut manusia (seperti pada waktu bercakap – cakap, menyanyi, tertawa dan
menangis).
Kata “gua” bermakna gorong-gorong, liang,
lubang, terowongan. Penulis tidak bisa bayangkan bagaimana bisa Iwan Fals
memilih kata gua sebagai sumber dari suara-suara yang ingin presiden dengarkan.
Kata “lumut” bermakna tumbuhan hijau atau kuning kecil-kecil yang tumbuh banyak
dan berkelompok membentuk bantalan (hamparan) menyerupai beledu pada batu, kayu,
tanah, atau tembok yang lembab. Sedangkan kata “kebosanan” bermakna hal bosan
atau kejenuhan.
Konotasi:
Kalimat
“presiden yang baru” pada lirik di atas sebenarnya belum secara pasti dan tegas
ditujukan kepada orang yang jelas. Karena lagu “Manusia Setengah Dewa” ini
sudah terlebih dahulu dirilis menjelang Pemilihan Umum (PEMILU) presiden dan
wakil presiden pada 5 Juli 2004. Pengarang menyatakan secara jelas bahwa lagu
ini ditujukan kepada semua calon presiden yang nantinya akan terpilih dan
menjabat Presiden. Dalam kenyataannya presiden yang akhirnya terpilih pada
PEMILU 5 Juli 2004 adalah Susilo Bambang Yudhoyono yang pada saat itu
berpasangan dengan Yusuf Kalla. Pengibaratan “suara yang keluar dari goa” suara
tersebut bisa terdengar namun hanya sebatas sayup-sayup yang tidak terdengar
jelas dan sulit untuk dipahami. Sehingga goa tersebut pun berubah menjadi goa
yang dipenuhi lumut karena tidak juga didengar suaranya yang akhirnya
membosankan dan ditinggalkan.
“Walau
hidup adalah permainan, Walau hidup adalah hiburan”
“Tetapi
kami tak mau dipermainkan, Dan kami juga bukan hiburan”
Analisis:
Kata “main” dalam KBBI berarti melakukan
perbuatan untuk bersenang-senang. Jadi permainan adalah sesuatu yang digunakan
untuk bermain; barang atau sesuatu yang yang dipermainkan. Dalam hal ini
permainan itu, Pengarang mengibaratkan hidup lah yang menjadi permainan.
Hiburan adalah sesuatu atau perbuatan yang dapat menghibur hati (melupakan
kesedihan, dsb).
Konotasi:
Didalam
lirik walaupun pengarang mengibaratkan hidup sebagai permainan dan sebagai
hiburan. Namun, pengarang tetap tidak ingin kehidupan rakyat Indonesia
dipermainkan dan dijadikan hiburan bagi presdien, khususnya. “Walau hidup
adalah permainan” merujuk bahwa Iwan Fals mengibaratkan hidup di dunia adalah
permainan. Seperti yang telah pengarang katakan diatas bahwa pengarang merasa
makna lirik ini bersifat sarkasme (Dalam KBBI sarkasme bermakna (penggunaan)
kata-kata pedas untuk menyakiti hati orang lain; cemoohan atau ejekan kasar).
“Turunkan
harga secepatnya, Berikan kami pekerjaan”
“Pasti
kuangkat engkau menjadi manusia setengah dewa”
Analisis
:
Kata
“turunkan” disini merujuk pada kata “harga” yang mengartikan bahwa harga yang
dimaksudkan pada lirik tersebut adalah mahal. Oleh sebab itu, Iwan Fals
menginginkan harga untuk diturunkan secepatnya. Pekerjaan adalah barang apa yang
dijadikan pokok penghidupan; sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan nafkah.
Dewa adalah orang yang diangan-angankan sebagai manusia halus yang berkuasa
atas alam dan manusia; orang atau sesuatu yang dipuja-puja.
Konotasi:
Kategori
kata mahal memang berbeda-beda pada setiap orang. Namun, kata mahal bisa
digeneralisasikan apabila dalam pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan
bagi sebagian besar rakyat Indonesia sudah sulit untuk dipenuhi, maka dapat
dikatakan “harga mahal”. Dan kata “secepatnya” menunjukkan betapa penurunan
harga tersebut sangat diharapkan dan dibutuhkan oleh rakyat. “Berikan kami
pekerjaan” merujuk bahwa pada saat itu pekerjaan menjadi hal yang sulit untuk
didapatkan. Lagu ini dirilis sebelum PEMILU Presiden dan Wakil Presdien tahun
2004. Dengan kata lain, apabila presiden yang baru ini berhasil menuruti
permintaan rakyat, maka rakyat akan mengangkatnya menjadi manusia setengah
dewa.
“Masalah
moral masalah akhlak, Biar kami cari sendiri”
“Urus
saja moralmu urus saja akhlakmu”
Analisis:
Kata “moral” bermakna ajaran tentang baik
buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, dan kewajiban. Sedangkan
kata “akhlak” bermakna budi pekerti, kelakuan.
Melalui
Lirik ini pengarang mengambarkan secara jelas bahwa tugas presiden tidak
termasuk megurusi masalah akhlak dan moral rakyat. Apabila moral presiden itu
sendiri sudah bagus maka moral rakyat pun akan bagus. Telah dijelaskan juga di
atas bahwa lirik ini menggambarkan kebebasan pada masing-masing pribadi, baik
itu rakyat ataupun presiden dalam mengurus hal akhlak dan moral.
“Peraturan
yang sehat yang kami mau, Tegakkan hukum setegak-tegaknya”
“Adil dan tegas tak pandang bulu, pasti kuangkat
engkau menjadi manusia setengah dewa”
Analisis:
Kata
“peraturan” bemakna tatatan (petunjuk, kaidah, ketentuan) yang dibuat untuk
mengatur. Sedangkan kata “sehat” yang diartikan sebagai keterangan untuk
peraturan merujuk pada keadaan yang berjalan dengan baik atau sebagaimana
mestinya, seperti keuangan, ekonomi, politik, dsb. Tegak bermakna lurus kearah
atas. Sedangkan hukum dalam bermakna peraturan atau adat yang secara resmi
dianggap mengikat, yang dikukuhkan oleh penguasa, pemerintah atau otoritas.
Adil bermakna tidak berat sebelah, tidak memihak. Sedangkan tegas bermakna
jelas dan benar, nyata.
Konotasi:
Melalui
lirik ini pengarang mengharapkan hukum di Indonesia harus ditegakkan dan harus
dijalankan secara adil. Itulah kunci agar kemakmuran rakyat Indonesia tercapai.
Lirik “tak pandang bulu” berarti hukum dilaksanakan dan dijalankan tanpa
melihat siapa dan latar belakang seseorang saat proses penegakan hukum. Di
dalam kehidupan politik Indonesia, Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono
sempat diuji rasa keadilan, ketegasan dan tidak pandang bulunya dalam kasus
korupsi yang dilakukan oleh besannya sendiri, yaitu Aulia Pohan.
Simpulan:
Manusia setengah dewa merupakan makhluk
khayalan di dalam mitos yang memiliki kehebatan dan kekuatan di dalam dirinya
yang dapat digunakan untuk menolong orang disekelilingnya. Hal ini lah yang
dimaksud oleh Iwan Fals dengan ide “manusia setengah dewa”. Apabila presiden
dapat memenuhi semua permintaan rakyat pada lirik lagu manusia setengah dewa
ini pasti presiden tersebut memiliki kekuatan seperti makhluk khayalan pada
cerita mitos.
Melalui lagu ini pengarang sebagai dari rakyat
akan hadirnya presiden indonesia yang adil dan bijaksana seakan mewakili suara
rakyat indonesia secara keseluruhan. Dan lagu ini menyampaikan pesan itu kepada
presiden baru.
Lagu manusia setengah dewa diciptakan pada
tahun 2004. Syair lagu ini dicipakan pengarang ditujukan kepada BJ Habibie yang
saat itu tahun 1996 baru diangkat menjadi presiden indonesia ke 3 mengantikan
soeharto yang berkuasa selama puluhan tahun menjadi presiden dan dipaksa
mengundurkan diri karena terjadi demonstrasi besar-besaran di seluruh negeri
DAFTAR PUSTAKA
Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Teori, Metode dan Teknik
Penelitihan Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Keraf, Gorys Dr. 1994. Disi dan Gaya Bahasa. Jakarta:
Gramadia Pustaka Utama.
Pawito. 2007. Penelitian Komunikasi Kualitatif .
Yogyakarta: LkiS Yogyakarta.
Sobur, Alex. 2004. Semiotika Komunikasi. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Umberto, Eco. 2009. Teori Semiotika (Edisi
Terjemahan Oleh Inyiak Ridwan Muzir). Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar